Saturday, July 14, 2012

Perlindungan Muta'im bin Adi ke atas Rasulullah s.a.w

 
Jiwar adalah salah satu produk hukum musyrikin Arab yang berarti perlindungan atau suaka politik. Hukum ini menegaskan bahwa seorang tokoh diantara mereka boleh menyatakan dengan bebas untuk memberikan perlindungan kepada seseorang, sehingga siapapun tidak boleh menyakiti orang orang itu sebagai penghormatan kepada orang yang melindungi dan pengakuan terhadap ketokohan, kehormatan dan pengaruhnya.

Ketika Rasulullah saw kembali dari Thaif beliau tidak boleh masuk ke kota Makkah kecuali dengan perlindungan dari seorang tokoh Musyrikin Quraisy yang bernama Al-Muth’im bin ‘Adi. Rasulullah saw meminta perlindungan darinya dan ia mengabulkan permintaan Nabi. Al-Muth’im bin ‘Adi dan keluarganya kemudian mengambil perlengkapan senjata mereka  dan keluar bersama menuju Masjid Haram. Setelah sampai di Masjid, ia mengutus orang untuk meminta Rasulullah saw segera masuk ke kota Makkah. Rasulullah saw pun memasuki kota Makkah, lalu menuju Masjid Haram, thawaf di Ka’bah dan melakukan shalat, kemudian kembali ke rumahnya.[1] Diriwayatkan bahwa Abu Jahal sempat bertanya kepada Al-Muth’im bin ‘Adi:

أَمُجِيْرٌ أَنْتَ أَمْ مُتَابِعٌ - مُسْلِمٌ؟
قال: بَلْ مُجِيْرٌ.
قال : قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتَ.

Abu Jahal: “Engkau pemberi jiwar ataukah pengikut Muhammad (muslim)?”
Al-Muth’im : “Aku pemberi jiwar.”
Abu Jahal : “Kami melindungi siapapun yang engkau lindungi.”[2]

Pembelaan Al-Muth’im bin ‘Adi ini amat berkesan di hati Rasulullah saw, sehingga ketika perang Badar selesai dan Rasulullah saw telah memutuskan perlakuan terhadap tawanan perang Badar, beliau bersabda:

لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا، ثُمّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ.

Seandainya Al-Muth’im bin ‘Adi masih hidup kemudian berbicara kepadaku tentang tawanan perang yang buruk ini, pasti akan kubebaskan mereka untuknya.[3]

Peristiwa perlindungan oleh Al-Muth’im ini terjadi setelah bapa saudara Rasulullah saw - Abu Thalib - wafat. Sebelum itu, Rasulullah saw dengan suka rela menerima perlindungan dari  Abu Thalib yang sampai akhir hayatnya tidak masuk Islam. Ketika Abu Thalib juga memberikan perlindungan kepada Salamah bin ‘Abdil Asad ra sekelompok orang dari Bani Makhzum datang kepadanya: “Wahai Abu Thalib, engkau telah melindungi anak saudara laki-lakimu Muhammad, mengapa kini engkau lindungi orang ini dari kami?” Abu Thalib menjawab: “Ia telah meminta perlindungan kepadaku, dan ia adalah anak saudara perempuanku. Bila aku tidak melindungi anak saudara perempuanku, maka aku juga tak akan melindungi anak saudara laki-lakiku.”

Pada saat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra hendak berhijrah ke Habasyah menyusul saudara-saudaranya tercinta  yang telah lebih dahulu hijrah, seorang tokoh musyrikin yang bernama Ibnu Ad-Daghannah menemuinya dan memberikan perlindungan kepadanya sambil berkata: “Orang sepertimu tidak boleh keluar dan dikeluarkan dari Makkah.”

Hatta Umar Al-Faruq pun mendapat perlindungan dari seorang musyrik bernama Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi ketika Quraisy telah mengetahui keislamannya.[4]

Betapa pentingnya bagi seorang da’i untuk memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya, atau dengan orang-orang di sekitarnya – meskipun kafir – yang dapat membelanya, dan pembelaan ini bermanfaat bagi da’wahnya. Tidaklah mungkin Rasulullah saw mendapatkan perlindungan dari Abu Thalib, kalau beliau tidak menjaga hubungan baik dengan bapa saudaranya yang musyrik itu. Juga tidaklah mungkin Al-Muth’im bin ‘Adi bersedia memberikan perlindungannya kepada Rasulullah saw kalau tidak ada muamalah yang baik antara Rasulullah saw dengannya.

Tidaklah penting bagi seorang da’i untuk mengetahui apakah pembelaan itu karena faktor kekeluargaan, kesukuan, pertemanan, ataukah sebab lainnya. Yang jelas perlindungan dan dukungan ini bermanfaat bagi sang da’i dan secara otomatis menjadi maslahat bagi gerak da’wahnya. Begitu pula betapa pentingnya sebuah jamaah da’wah memiliki hubungan muamalah yang baik dengan berbagai organisasi dan kelompok masyarakat terutama di dalam negeri. Dengan muamalah yang baik ini jamaah dapat lebih leluasa bergerak merealisasikan agenda da’wahnya dan mendapatkan pembelaan dari berbagai pihak yang telah merasakan husnul muamalahnya.

Al-Quran sendiri mengisyaratkan peranan kabilah atau keluarga, meskipun kafir, dalam melindungi da’i dari ancaman musuh seperti dalam kisah Nabi Syuaib as:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ (هود:91)

Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami." (Hud: 91).

Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sa’di, seorang ulama Saudi Arabia, dalam menjelaskan ayat tersebut mengatakan:
أَنَّ اللهَ يَدْفَعُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِأَسْبَابٍ كَثِيْرَةٍ قَدْ يَعْلَمُوْنَ بَعْضَهَا وَقَدْ لاَ يَعْلَمُوْنَ شَيْئًا مِنْهَا وَرُبَّمَا دَفَعَ عَنْهُمْ بِسَبَبِ قَبِيْلَتِهِمْ أَوْ أَهْلِ وَطَنِهِمُ الْكُفَّارِ كَمَا دَفَعَ اللهُ عَنْ شُعَيْبٍ رَجْمَ قَوْمِهِ بِسَبَبِ رَهْطِهِ وَأَنَّ هَذِهِ الرَّوَابِطَ الَّتِيْ يَحْصُلُ بِهَا الدَّفْعُ عَنِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ لاَ بَأْسَ بِالسَّعْيِ فِيْهَا بَلْ رُبَّمَا تَعَيَّنَ ذَلِكَ لِأَنَّ الإِصْلاَحَ مَطْلُوْبٌ عَلَى حَسَبِ القُدْرَةِ وَالإِمْكَانِ.

"Allah swt membela orang-orang yang beriman dengan berbagai cara, ada yang mereka ketahui dan ada pula yang tidak mereka ketahui. Bisa jadi Allah membela orang-orang yang beriman dengan kabilah atau warga sekampung mereka yang kafir sekalipun sebagaimana Allah membela Nabi Syuaib as dari ancaman rajam dengan wibawa keluarganya. Ikatan-ikatan yang dapat membantu membelaIslam dan kaum muslimin seperti ini boleh diusahakan bahkan dalam keadaan tertentu menjadi wajib diwujudkan, karena ishlah (perbaikan) itu wajib dilakukan sesuai kemampuan dan kemungkinan.”[5]

Tentang Rasulullah saw, Allah swt berfirman:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فآوَى (الضحى: 6)

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (Ad-Dhuha: 6).

Syaikh Muhammad Al-Amin As-Syinqithi rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

أَيْ آوَاكَ بِأَنْ ضَمَّكَ إِلَى عَمِّكَ أَبِي طَالِبٍ. وَذَلِكَ بِسَبَبِ الْعَوَاطِفِ الْعَصَبِيَّةِ، وَالأَوَاصِرِ النَّسَبِيَّةِ، وَلاَ صِلَةَ لَهُ بِالدِّيْنِ أَلْبَتَّة. فَكَوْنُهُ جَلَّ وَعَلاَ يَمْتَنُّ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِيْوَاءِ أَبِي طَالِبٍ لَهُ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ اللهَ قَدْ يُنْعِمُ عَلَى الْمُتَمَسِّكِ بِدِيْنِهِ بِنُصْرَةِ قَرِيْبِهِ الْكَافِرِ.

“Maksudnya: Dia memberikan perlindungan kepadamu dengan menyerahkanmu kepada bapa saudaramu Abu Thalib. Hal itu disebabkan oleh kasih sayang keluarga dan hubungan nasab, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama. Ketika Allah swt memberikan ni’mat kepada rasul-Nya saw dengan perlindungan Abu Thalib, maka dalam hal ini terdapat dalil bahwa sesungguhnya Allah swt bisa jadi memberikan ni’mat kepadaorang yang berpegang teguh kepada agamanya dengan pertolongan kerabatnya yang kafir.”

Setelah menyebutkan ayat-ayat lain tentang dukungan keluarga kepada para nabi, Syaikh Muhammad Al-Amin As-Syinqithi melanjutkan:

وَهَذِهِ الآَيَاتُ الْقُرْآنِيَّةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ قَدْ تَنْفَعُهُمْ عَصَبِيَّةُ إِخْوَانِهِمُ الْكَافِرِيْنَ.
وَلَمَّا نَاصَرَ بَنُو الْمُطَّلِبِ بْنُ عَبْدِ مَنَافٍ بَنِي هَاشِمٍ وَلَمْ يُنَاصِرْهُمْ بَنُو عَبْدِ شَمْسٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَبَنُوْ نَوْفَل بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ عَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبَنِي الْمُطَّلِبِ تِلْكَ الْمُنَاصَرَةَ الَّتِي هِيَ عَصَبِيَّةٌ نَسَبِيَّةٌ لاَ صِلَةَ لَهَا بِالدِّيْنِ. فَأَعْطَاهُمْ مِنْ خُمُسِ الْغَنِيْمَةِ مَعَ بَنِي هَاشِمٍ، وَقَالَ: « إِنَّا وَبَنِي الْمُطَّلِبِ لَمْ نَفْتَرِقْ فِي جَاهِلِيَّةٍ وَلاَ إِسْلاَمٍ » وَمَنَعَ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ وَبَنِي نَوْفَل مِنْ خُمُسِ الْغَنِيْمَةِ، مَعَ أَنَّ الْجَمِيْعَ أَوْلاَدُ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ قُصَيٍّ.

“Ayat-ayat Al-Quran ini menunjukkan bahwa ashabiyyah sanak saudara yang kafir bisa bermanfaat bagi kaum muslimin. Pada saat Banu Al-Muthalib bin Abdi Manaf membela Banu Hasyim, sedangkan Banu Abdi Syams bin Abdi Manaf serta Banu Naufal bin Abdi Manaf tidak membantu Banu Hasyim, Rasulullah saw mengetahui bahwa pembelaan tersebut adalah semata ashabiyyah keturunan dan tidak ada hubungannya dengan agama. Maka Rasulullah saw memberikan kepada Bani Al-Muthalib bagian dari seperlima ghanimah[6] bersama Banu Hasyim, dan beliau bersabda: “Kami (Banu Hasyim) dan Banu Al-Muthalib tidak pernah bercerai baik ketika jahiliyyah maupun Islam .”Dan beliau tidak memberikan dari seperlima ghanimah tersebut kepada Bani Abdi Syams maupun Bani Naufal meskipun keduanya adalah keturunan Abdu Manaf bin Qushay.”[7]


Sikap Aktif Mengurangi Kerusakan adalah Tuntutan Syariat

Dr. Abdul Karim Zaidan, salah seorang ulama dan da’i berkebangsaan Irak, dalam makalahnya berjudul “Demokrasi dan Keikutsertaan Ummat Islam dalam Pemilu” yang disampaikan pada Mu’tamar Rabithah ‘Alam Islami di Makkah 21 Syawwal 1422 H, mengambil kesimpulan hukum dari peristiwa jiwar tersebut bahwa seorang muslim diperbolehkan mengambil produk hukum atau peraturan dari sistem yang tidak islami yang bermanfaat bagi da’wah islamiyyah:

أَمَّا الْحِكْمَةُ فِي جَوَازِ أَخْذِ الْمُسْلِمِ بِجِوَارِ الْكَافِرِ فَهِيَ دَفْعُ الأَذَى وَالْهَلاَكِ عَنِ الْمُسْلِمِ بِطَرِيْقَةٍ لاَ تَخْدِشُ مَعَانِيَ الإِسْلاَمِ وَأَحْكَامَهُ. وَالدَّلاَلَةُ فِي هَذَا الْجَوَازِ، جَوَازُ الْقِيَاسِ عَلَيْهِ بِالأَخْذِ بِجُزْئِيَّةٍ مِنْ نِظَامِ الْكُفَّارِ، أَيْ يَأْخُذُ الْمُسْلِمُ وَهُوَ فِي الدَّوْلَةِ الْكَافِرَةِ بِجُزْئِيَّةٍ مِنْ قَانُوْنِهِمْ إِذَا كَانَ فِي الأَخْذِ بِهَذِهِ الْجُزْئِيَّةِ مَصْلَحَةٌ أَوْ دَرْءُ مَفْسَدَةٍ لَهُ وَلِغَيْرِهِ مِنْ فِئَةِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُقِيْمِيْنَ فِي هَذِهِ الدَّوْلَةِ.

“Hikmah dibolehkannya mengambil perlindungan dari orang kafir adalah untuk menolak bahaya dan kehancuran yang mengancam seorang muslim dengan cara yang tidak mencoreng nilai dan hukum Islam. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi dibolehkannya mengambil aspek tertentu dari nizham (sistem) kekufuran yang bermanfaat bagi ummat Islam. Artinya, seorang muslim yang tinggal di negara kafir diperbolehkan mengambil sebagian produk undang-undang mereka jika hal itu membawa suatu maslahat atau dapat menolak suatu bahaya dan ancaman baginya atau bagi ummat Islam yang tinggal di sana.”

Lebih jauh lagi, Dr. Abdul Karim Zaidan menghubungkan masalah jiwar ini dengan keterlibatan seorang muslim yang tinggal di negara-negara barat dalam pemilu:

وَبِنَاءً عَلَى هَذَا، يَجُوْزُ لِلْمُسْلِمِ وَهُوَ فِي هَذِهِ الدَّوْلَةِ غَيْرِ الإِسْلاَمِيَّةِ إِذَا كَانَ لَهُ حَقُّ الاِنْتِخَابِ ـ اِنْتِخَابِ أَعْضَاءِ الْبَرْلَمَانِ ـ أَنْ يَسْتَعْمِلَ حَقَّهُ بِالْمُشَارَكَةِ فِي الاِنْتِخَابِ فَيَنْتَخِبُ مِنَ الْكُفَّارِ لِعُضْوِيَّةِ الْبَرْلَمَانِ مَنْ يُؤْمَلُ مِنْهُ مَصْلَحَةٌ أَوْ دَرْءُ مَفْسَدَةٍ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ دَاخِلَ هَذِهِ الدَّوْلَةِ أَوْ خَارِجَهَا أَوْ يُؤْمَلُ مِنْهُ عَلَى الأَقَلِّ الْحِيَادُ فِي قَضَايَا الْمُسْلِمِيْنَ، لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ تَحْقِيْقُ الْمَصْلَحَةِ أَوْ دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ، فَعَلَى الأَقَلِّ السَّعْيُ لِتَقْلِيْلِ الْمَفْسَدَةِ، وَمِنْ صُوَرِ تَقْلِيْلِ الْمَفْسَدَةِ اِنْتِخَابُ مَنْ يُؤْمَلُ مِنْهُ ذَلِكَ، وَأَنْ لاَ بَدِيْلَ عَنْهُ إِلاَّ اِنْتِخَابُ الأَسْوَأِ وَالأَكْثَرِ ضَرَراً وَمَفْسَدَة ً لِلْمُسْلِمِيْنَ، أَوْ تَرْكُ الْمُشَارَكَةِ فِي الاِنْتِخَابَاتِ، وَلَيْسَ فِي هَذَا التَّرْكِ جُهْدٌ يُقَدِّمُهُ الْمُسْلِمُ لِجَلْبِ الْخَيْرِ وَدَفْعِ الشَّرِّ أَوْ تَقْلِيْلِهِ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ قَدْرَ الإِمْكَانِ وَلَيْسَ مِثْلُ هَذَا الْمَوْقِفِ السَّلْبِيِّ بِالْمَوْقِفِ الْمَرْغُوْبِ فِيْهِ شَرْعاً، إِنْ لَمْ نَقُلْ غََيْرَ الْجَائِزِ شَرْعاً .

“Dengan dasar ini, maka seorang muslim yang tinggal di negara-negara non muslim yang memiliki hak pilih dalam pemilu – pemilu legislatif - diperbolehkan memilih seorang kafir sebagai anggota parlimen yang diharapkan dapat memberi manfaat atau menolak mafsadat baginya atau kaum muslimin yang lain di negara tersebut atau kaum muslimin di negara lain, minimal memilih orang kafir yang memiliki sikap al-hiyad (obyektif) terhadap problematika kaum muslimin. Karena jika kita tidak dapat merealisasikan semua maslahat atau menolak semua kerusakan, maka minimal adalah berusaha mengurangi kerusakan yang diantara realisasinya adalah ikut memilih orang yang diharapkan dapat mewujudkan hal tersebut. Apalagi jika dianalisa bahwa kekalahannya mengakibatkan kemenangan orang yang lebih buruk dan lebih banyak bahayanya bagi kaum muslimin. Sikap pasif atau golput adalah sikap negatif, juga menandakan tak ada upaya mengerahkan kemampuan untuk mengurangi mafsadat yang mengancam kaum muslimin, dan sikap ini tentu saja tidak dianjurkan oleh syariat jika kita tidak mau mengatakan dilarang.”[8]

Bahkan Syaikh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, seorang ulama dan tokoh pergerakan yang senegara dengan Dr. Abdul Karim Zaidan, setelah mengemukakan berbagai argumentasi dengan tegas mewajibkan kaum muslimin di negara-negara non muslim menggunakan hak pilihnya dalam pemilu:

وَلِذَلِكَ كُلِّهِ أَرَى، وَبِالْمِقْدَارِ الَّذِيْ حَصَلَ لِيْ بِحَمْدِ اللهِ مِنَ الْمَوَازِيْنِ وَالْعُلُوْمِ الشَّرْعِيَّةِ وَالْفِقْهِ الإِيْمَانِي: أَنَّ إِدْلاَءَ الْمُسْلِمِ بِصَوْتِهِ الاِنْتِخَابِيِّ لِمُرَشَّحِي التَّيَّارَاتِ الْمُعْتَدِلَةِ فِي الْبِلاَدِ الغَرْبِيَّةِ النَّصْرَانِيَّةِ صَارَ فِي عِدَادِ الْوَاجِبَاتِ الإِسْلاَمِيَّةِ، لِوُجُوْدِ مَنَافِسٍ مُتَطَرِّفٍ عَدُوٍّ لِلْإِسْلاَمِ، وَفَتْوَايَ تَسْرِي عَلَى الأَحْوَالِ الْمُمَاثِلَةِ فِي بِلاَدِ الشَّرْقِ الأَقْصَى البُوْذِيَّةِ أَيْضاً، وَعَلَى الْهِنْدِ وَسرِيْلاَنْكَا، وَحَيْثُمَا يَكُوْنُ هُنَاكَ تَنَافُسٌ سِيَاسِيٌّ عَلَى هَذَا النَّمَطِ.

“Oleh karenanya berdasarkan timbangan syariah, pemahaman ilmu-ilmu syar’i, dan fiqh imani yang saya miliki (Alhamdulillah), saya berpendapat bahwa keikutsertaan seorang muslim dalam pemilu untuk memberikan suara kepada calon-calon pemimpin dari kekuatan politik yang bersikap moderat di negara-negara barat yang Nasrani telah menjadi kewajiban menurut syariat Islam disebabkan oleh adanya ancaman dari kekuatan-kekuatan ekstrem yang memusuhi Islam (jika mereka menang). Dan fatwa saya ini berlaku juga untuk negara-negara timur jauh yang beragama Budha, India dan Srilanka, dan negara manapun yang menghadapi persaingan politik dan situasi yang sama.”[9]


Sumber :
[1] Sirah Ibnu Hisyam, Bab “Kaifa Ajara Al-Muth’im Rasulallah” (bagaimana Al-Muth’im melindungi Rasulullah saw).

[2] Ar-Rahiq Al-Makhtum, Shafiyyur Rahman Mubarakfuri, Bab Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam fi At-Thaif (Rasulullah SAW di Thaif).

[3] Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, hlm 100; Ar-Rahiq Al-Makhtum, Shafiyyur Rahman Mubarakfuri, Bab Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam fi At-Thaif.(Rasulullah SAW di Thaif).

[4] As-Sirah An-Nabawiyyah, Muhammad Abu Syuhbah, juz 1 hlm 36, 381 & 358.

[5] Taysir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan ketika membahas surat Hud ayat 91.

[6] Seperlima dari harta rampasan perang (khumus) adalah jatah yang diberikan Allah swt untuk Rasulullah, kerabat beliau dan pihak lain yang telah disebutkan dalam surat Al-Anfal ayat 41.

[7] Adhwa‘ Al-Bayan, ketika beliau menafsirkan surat Hud ayat 91.


 

No comments:

Post a Comment