.

.
Showing posts with label Sejarah Melayu. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Melayu. Show all posts

Thursday, August 25, 2016

MELAYU DAN MATEMATIK



Assalamualaikum. 
Kita selalu dengar rungutan murid dan pelajar Melayu bahawa subjek matematik sangat susah. Malah ada yg beranggapan bahawa org Melayu memang tak pandai matematik. 

Tahukah anda 105 tahun dulu sudah ada pakar matematik Melayu yg sudah mengarang buku matematik? Buktinya sebuah manuskrip matematik (ilmu hisab) yg ditulis oleh Sheikh Omar Nuruddin dari Sungai Keladi, Kelantan pada tahun 1910.

Pakar2 matematik kontemporari dari institut matematik UPM yg mengkaji kandungan manuskrip tsb mendapati rumus matematik (formula) yg ditulis sama tepatnya dgn formula moden dari Barat.

Salah satu halaman tercatat "kira dhorab (multiplication). Jumlah bilangan yg majhul dgn majhul menjadi ma'lum." Maksudnya unknown number × unknown number = known. Atau kini negative  x negative = positive. 

Jadi di mana betulnya tanggapan bahawa org Melayu tidak pandai matematik? 

Manuskrip ini dan banyak lagi boleh dilihat di Muzium Warisan Melayu UPM. Datanglah beramai2.

Sumber: Facebook Abdul Muati Ahmad, Pensyarah UPM.

Monday, June 15, 2015

WALI SONGO UTUSAN KHALIFAH



Boleh dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peranan khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?
Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk belayar ke pulau Jawa.
Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestin  yang berdakwah di Banten. iaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestin.
Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestin. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.
Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

TEMPOH DAKWAH WALI SONGO

Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli ilmuwan pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestin, Maulana Aliyuddin dari Palestin, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.
Pada tempoh berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestin (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestin cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).
Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.
Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.
Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.
Namun, sebahagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelaran-gelaran kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.
Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan ketenteraan yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan ketenteraan berupa senjata disertai instruktur yang mengajar cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.
Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.
Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan biasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.
Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.
Dengan demikian, menunjukkan hubungan Nusantara sebagai sebahagian daripada Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.
Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.
KESIMPULAN
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)
Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.
- Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
- Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestin yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
- Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
- Juga Syaikh Ja'far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
- Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk kumpulan beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Kumpulan tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
berbagai sumber

Friday, April 24, 2015

SEJARAH YANG TERSEMBUNYI, KERAJAAN ISLAM AYUTTHAYA KERAJAAN YANG PERNAH MENGUASAI NUSANTARA

Kerajaan Ayutthaya adalah sebuah kerajaan Siam yang beragama Islam dan raja-raja mereka berasal dari Kedah.Siam dan Thai juga adalah dua kaum yang berbeza. kejatuhan Ayutthaya adalah disebabkan pakatan antara Burma dan Thai sekian lama,kemudian sejarah Ayutthaya telah ditutup dan diubah serta keturunan raja-raja Ayutthaya juga diburu dan dibunuh.

Dalam sejarah Thailand juga disebut raja-raja Ayutthaya adalah berasal dari kaum Tai dan berbahasa Tai.Mereka menganut ajaran Buddha.Ini adalah sejarah umum yang dibaca dibuku-buku sejarah.

Kekeliruan mula terjadi apabila ahli-ahli sejarah Thai menemukan jumlah tapak masjid yang begitu banyak di sekitar puing-puing kota Ayutthaya.Para pengkaji juga menemukan bekas-bekas ukiran yang dirosakkan atau dibuang dari dinding-dinding runtuhan kota.Seorang pakar sejarah Thailand juga mencadangkan nama Thailand ditukar semula ke nama 'Siam'.Kuasa raja Thai yang semakin dikurangkan memungkinkan kajian yang lebih mendalam dan ahli sejarah Thai semakin berani mengemukakan hasil kajian.

-Siam adalah nama satu kaum yang berbeza bahasa dan agama dengan Tai.Siam berasal dari Kedah dan beragama Islam,manakala Tai dari selatan China.Raja-raja Ayutthaya adalah dari keturunan Siam dan beragama Islam.

-Siam (Ayutthaya) ialah satu keturunan dengan orang Melayu.

-Siam adalah hasil pencampuran orang Cina Islam dari negara China pada zaman dahulu dan keturunan orang-orang Melayu di Nusantara.

-Setiap nama raja Ayutthaya mempunyai nama Siam dan nama Islam mereka.

-Kerajaan Ayutthaya adalah kerajaan yang diperintah oleh raja-raja Islam.

-Kerajaan Ayutthaya adalah sebahagian dari Empayar Monggol (Moghul) Islam berpusat di India.Setidak-tidaknya ada hubungan dengan Kerajaan Moghul itu kerana ada keturunan mereka menjalinkan tali perkahwinan dengan raja-raja Siam Ayutthaya.

-Keturunan raja-raja Ayutthaya telah lari ke semenanjung Tanah Melayu dan diburu oleh kerajaan Thai yang menakluk Ayutthaya sebelum itu.Mereka memakai gelaran 'Nai'.

-Semua raja-raja Melayu di semenanjung ini adalah 'raja daerah' kepada Empayar Islam Ayutthaya sahaja termasuk Kesultanan Melaka.Melaka itu pula dikatakan hanyalah salah satu pelabuhan Ayutthaya untuk mengawal Selat Melaka.

-Raja-raja daerah ini mempunyai peluang untuk menjadi Maharaja Ayutthaya melalui sistem giliran.

-Raja-raja dan tentera Kerajaan Ayutthaya ini punya budaya berkeris menunjukkan hubungan keturunan mereka dengan alam Melayu.

-Sejarah Ayutthaya ada kaitan dengan Merong Mahawangsa.

-Pengetahuan salasilah keturunan raja-raja Ayutthaya adalah wasiat yang dijaga turun-temurun oleh kerabat pemerintah Ayutthaya yang bersembunyi dari buruan tentera Thai terutama sejak tahun 1821 yang digelar 'Tahun Musuh Bisik'.

Orang Cham adalah penduduk asli Benua Siam,sama seperti orang Mon,Pyu dan lain-lain.Orang Mon sendiri pernah berkerajaan di Benua Siam lama sebelum orang Khmer naik memerintah Angkor selepas kejatuhan Funan (sebuah lagi kerajaan Melayu Kuno) dan orang Mon itu sebenarnya lah yang mengajarkan ajaran Buddha kepada raja-raja Khmer.

Kerajaan Orang Mon telah dimusnahkan oleh orang Burma,satu lagi kaum pendatang yang ganas (sehingga ke hari ini keganasan mereka,lihat sahaja apa yang terjadi di Myanmar) dan orang Mon pada hari ini tiada bernegara dan menjadi minoriti.Siapa orang Mon?Merekalah pembina Pagoda Shwe Dagon yang menakjubkan itu.Jika mampu membina pagoda besar dari emas,bayangkan bagaimana hebatnya kerajaan orang Mon pada zaman purba.Jika orang Mon dahulunya amat hebat dan kaya-raya,hari ini menjadi mundur,miskin,minoriti,tertindas dan tidak bernegara,itulah yang terjadi kepada orang Melayu Cham pada hari ini dan TIDAK MUSTAHIL AKAN BERLAKU KEPADA ORANG MELAYU DI MALAYSIA.

Kra Isthmus adalah wilayah Melayu pada zaman dahulu iaitu Segenting Kera.Kra bukanlah perkataan Thai,ia adalah perkataan Melayu 'KERA',ya...haiwan yang bernama kera.Dinamakan Segenting Kera kerana memiliki tanah yang sempit,ia adalah perumpamaan Melayu lama yang sejenis dengan kata 'sekangkang kera'.Kera digunakan sebagai perumpamaan sebagai perbandingan ruang yang kecil.Dari sini kita tahu sampai mana sempadan negeri-negeri yang diduduki orang Melayu.JIka sudah satu Segenting Kra adalah wilayah Melayu dahulu atau wilayah Patani,adakah orang-orang Melayu sukar untuk mencapai Ayutthaya?Ayutthaya bukanlah terletak di tengah-tengah Benua Siam atau jauh ke utara.Ia terletak berdekatan Teluk Siam (Gulf of Thailand)

Orang Melayu (tidak kira yang Jawanya,Champa atau Pataninya) pernah menduduki seluruh Benua Siam.Dari mana orang-orang Khmer belajar menubuhkan kerajaan?Dari orang-orang CHAM DAN JAWA SAILENDRA!

'Nusantara' dikatakan dari kata 'no-san-ta-ra' bermaksud 'tunas-muda-menanti-merebak',perkataan 'Beruas' (nama tempat di Perak) dikatakan bermaksud 'Puak-Kaya' dalam bahasa Siam.Malahan Perak itu adalah sebenarnya 'Phe-Raq' iaitu 'abang-yang dikasihi'

sumber klik sini

Thursday, April 2, 2015

PENINGGALAN SEJARAH DI SG MERBOK

Sungai Merbok adalah sebuah sungai yang terletak di utara bandar Sungai Petani dalam negeri Kedah Darulaman. Dengan kelebaran hampir kurang lebih 1 km disesetengah tempat ia menjadi laluan mudah bagi kapal-kapal layar yang besar dizaman dahulu untuk mudik ke hulu. Sungai ini di kualanya terletak kawasan peranginan Pantai Merdeka di selatan dan Tanjung Dawai di Utaranya.

Sekiranya kita memudikki sungai ini dari kuala ke hulu sungai, dikanan kita adalah Kuala Muda sementara di kiri ialah Lembah Bujang. Memang ada pun nama kampung seperti Kg Pengkalan Bujang dan Kg Segantang Garam dikiri sungai ini. Di kanan pula terletak Kg Sungai Layar tempat membaiki kapal layar zaman dahulu. Nama-nama ini sudah pasti ada kaitan dengan aktiviti perniagaan masyarakat setempat ketika itu. Oleh sebab itu nama-nama lain seperti Sg. Jagong, Sg. Tukang, Sg. Layar, Sg. Pasir dll disekitar Sungai Petani, Telok Bayu, Bendang Raja, kolam Duli merupakan kawasan perdagangan di raja pada zaman dahulu. Di kawasan Sungai Merbok inilah terdapat kesan-kesan sejarah yang ditinggalkan terutama sekali dikawasan yang di panggil Istana Pulau Tiga.



Peninggalan sejarah disini kami boleh bahagikan kepada tiga iaitu,

1) Peninggalan Kota Istana Pulau Tiga
2) Peninggalan ‘Gok’ pembakar kayu untuk membuat arang dan batu bata
3) Peninggalan kubu tentera British

Peninggalan Kota Istana Pulau Tiga

Terdapat 3 buah pulau kecil dalam Sungai Merbok, iaitu Pulau satu, Pulau dua dan Pulau Tiga. Pulau tiga turut juga dikenali sebagai Pulau Kunyit. Pulau-pulau ini walau pun hari ini dikelilingi oleh pokok bakau akan tetapi tanah dibahagian tengahnya kejap dan rata, sesuai untuk didirikan bangunan.


Menghampiri Pulau Tiga. Walaupun berpaya bakau disekelilingnya, dibahagian tengah nya mempunyai tanah dan batu yang kukuh.


Pak Saad menceritakan semula sejarah, setakat yang diketahuinya. Tanah yang didudukkinya berhampiran Sg Merbok dikatakan milik raja, raja mana tak pasti pulak.

Menurut seorang penduduk tempatan yang tinggal berhampiran, berusia 73 tahun iaitu Pak Saad terdapat sebuah istana yang didirikan diatas air berhampiran dengan Pulau Tiga. Sewaktu air surut kesan-kesan batu-bata istana ini boleh dilihat didalam air. Istana ini telah dirobohkan sekitar tahun 1876-1881 sewaktu negeri kedah dijajah oleh tentera thai. Malah tanah kampung yang mana Pak Saad mendirikan tanah diklasifikasikan sebagai tanah milik raja, bermula dari jambatan Sembeling hingga ke Laguna Merbok.


Alor Sungai Tukang telah pun ditutp untuk membina kawasan perumahan Bandar Laguna Merbok. Sungai Tukang adalah tempat dimana kapal-kapal layar zaman dahulu berlabuh untuk dibaiki.

Didalam buku sejarah Mahawangsa terbitan Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Kedah ada menyebut bahawa Paduka Seri Sultan Ahmad Tajuddin Halim Syah pernah bersemayam diistana Pulau Tiga sewaktu melarikan diri tentera thai dahulu. Kalau dicari istana ini hari ini, sememangnya tidak akan dijumpai lagi. Ia telah lama di musnahkan oleh tentera penjajah di zaman dahulu dan serpihannya dibuang kedalam air. Bumi bertuah ini sejak zaman dahulu tidak pernah dilanda gempa bumi untuk merobohkan binaan ini semua. Sekiranya ada, pasti serpihannya dapat dilihat oleh kita hari ini. Begitu juga candi di Lembah Bujang yang sengaja ditimbus untuk menutup sejarah bangsa.



Di riwayatkan bahawa Istana Pulau Tiga adalah sebuah istana lama yang dibina semenjak zaman Iskandar Zulkarnain lagi. Malah dikatakan juga pembinaan istana di Mandalay oleh Raja Mandalika Sultan Madzafar Syah III bergelar Rama Tibodi I adalah mengambil kira saiz dan rekabentuk bangunan tersebut. Hari ini, kesahihannya sudah pasti tidak dapat dipastikan lagi. Dari segi kupayaan masyarakat setempat sememangnya ada kerana Borobodur yang jauh lebih besar pun mampu didirikan di Pulau Jawa. Yang tinggal hanyalah dinding-dinding kotanya sebagai bukti untuk generasi kita hari ini.


Ini adalah gambar Istana Ananda Paagan bermaksud 'Anakanda bawa wang' yang tersergam di Mandalay, Myanmar (Burma) hari ini. Di riwayatkan bahawa Raja Mandalika (Mandalay adalah sempena nama baginda) Sultan Madzafar Syah III bergelar Rama Tibodi I (di Ayuthia) melihat contoh Istana di Pulau Tiga untuk membina istana ini disana. Raja Mandalika inilah dimana namanya terpahat pada Batu Bersurat Trengganu. Adakah Pagaan @ Bagan di Bagan (Serai), Pulau Pinang mempunyai persamaan?




Duit dinar matahari yang dikatakan pernah dijumpai di Pulau Tiga disamping serpihan pinggan mangkuk China. Duit dari 'cowries' iaitu sejenis siput turut pernah digunakan di Siam. Dengan itulah penduduk di Utara menyebut kupang untuk sen hinggalah ke hari ini.


Tambak Bunga seperti yang ditunjukkan oleh Saudara Yusuf merupakan tambakan pejal yang kini ditumbuhi pokok jenis Acasia. Di hadapan inilah dikatakan terletaknya istana Pulau tiga terapung diatas permukaan air. Pada tambakan ini perahu akan terus bertemu dengan tanah pejal bukannya paya pokok bakau. Ada kemungkinan juga istana tersebut serpihannya berada didalam air sungai (dibuang kesitu) akan tetapi lokasi sebenarnya adalah diatas darat

Di samping itu terdapat tambak yang ditanam dengan pokok-pokok bunga sebagai backdrop kepada istana tersebut. Hingga sekarang tambak yang rapat kegigi air ini masih lagi dikenali sebagai Tambak Bunga.



Tidak jauh diseberang Sungai Merbok terdapat kolam-kolan ikan peliharaan yang dinamakan Kolam Duli. Nama seperti Kolam Duli, Tambak Bunga telah kami perolehi melalui wasiat dan kami tidak menyebutnya kepada Saudara Yusuf Saad yang membawa kami mudik Sungai Merbok. Beliau sendiri yang menyebutnya dan menunjukkan kepada kami kawasannya.



Namun begitu kesan-kesan diatas daratan masih lagi jelas kelihatan diantaranya dinding kota istana Pulau Tiga. Batu bata yang digunakan adalah jenis lebar dan leper sepertimana bata-bata candi di Lembah Bujang dan juga binaan pintu gerbang Kota Kuala Muda (Lembah Bujang hanya 15 min sekiranya berkereta).





Walau bagaimana pun rekabentuk binaannya pula tidak pula seperti rekabentuk candi yang dijumpai dengan begitu banyak sekali di Lembah Bujang ini. Kota ini ada tanda-tanda dirobohkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawap seperti diterbalikkan dsbnya. Yang anehnya kenapa kewujudan kota ini tidak dihebahkan? Adakah kerana rekabentuknya yang lain dari rekabentuk candi lembah bujang (walaupun bahannya sama) akan menyebabkan 'contradict' dengan maklumat sedia ada yang mengatakan candi adalah untuk penganut agama Hindu?

Gok untuk membakar Kayu Arang dan Bata

Gok adalah merupakan tempat membuat kayu arang menggunakan kayu-kayu bakau yang banyak kedapatan di pesisiran Sungai Merbok. Kawasan Sungai Petani ini tanahnya berbukit-bukitdan sesuai untuk mendirikan bangunan yang lebih tinggi berbanding Alor Setar dimana tanahnya berlumpur.



Sekiranya baru dikorek, tanah disekitar ini kelihatan merah seperti luka kerana baru di korek. Tanah yang berwarna hitam hampir tidak ada dikawasan ini. Dengan peninggalan sejarah sedia ada, adakah kawasan ini, Tanah Merah atau 'the red earth land' yang dimaksudkan dalam penulisan sejarah zaman dahulu itu? Cukup untuk kita renungkan seketika.


Pintu masuk ke Gok jelas mempunyai rekabentuk Siam Parsi. Mungkin ini adalah ikutan dari rekabentuk pintu masuk ke Istana Pulau Tiga yang masih ada lagi sewaktu Gok ini dibina dahulu.

Gok ini didirikan sekitar tahun 1850an sahaja memandangkan bata yang digunakan adalah sepertimana saiz bata pada hari ini. Dari jumlah Gok yang berbelas-belas terdapat disini kami yakin ada satu industri membuat arang yang luas dikawasan ini disamping juga untuk membuat batu-bata. Apakah kegunaan arang ini sebenarnya disamping untuk membuat dapur arang, membakar kemian, atau menggerakan kapal steam yang kekurangan arang batu disatu ketika dahulu? Walau apa pun, industri sebegini yang kami kira besar dizaman dahulu pasti dimiliki oleh pembesar dizaman dahulu.



Memandangkan Sungai Merbok ini luas dengan air yang tenang ia mudah dimudikki oleh kapal-kapal dizaman dahulu apatah lagi kapal-kapal layar yang mengutip barang-barang dagangan. Yang pasti, Sungai Merbok menyimpan seribu misteri sejarah negara berlatarbelakangkan Gunong Jerai yang juga mempunyai kisah lagenda yang tersendiri.



Pengusaha dari keturunan China dikawasan ini sudah pun meninggal dunia dan keturunannya yang masih ada tidak lagi ingin meneruskan kerjaya tersebut, lalu Gok ini dibiarkan/ditinggalkan begitu sahaja. Walaubagaimanapun usia Gok ini sudah pasti telah menjangkaui lebih 150 tahun.

Peninggalan kubu tentera British

Objektif kami bukannya mencari kubu tentera Inggeris. Akan tetapi diatas maklumat yang kami dapat, kami turun padang mencari setiap tinggalan sejarah yang ada kaitan dengan pengkajian kami. Di kawasan ini terdapat banyak tinggalan kubu-kubu tinggalan tentera Inggeris teutama sekali di sekitar kawasan peninggalan istana Pulau Tiga. Kubu-kubu ini mungkin didirikan mungkin seawal tahun 1900 ke atas sahaja. Terdapat juga bilik-bilik pegawai yang membawa dari satu ruang ke satu ruang yang lain.

Terletak dibawah tanah, ia dirikan dengan binaan bata moden dan di plaster dengan simen sebagai kemasan akhir. Terdapat ‘Cubicle’ untuk tentera berlindung dari serangan. Kami sertakan gambar-gambarnya.









Sumber: http://sejarahnagarakedah.blogspot.com








Thursday, January 8, 2015

Asal Logo Komando 69



Logo 69 Komando adalah merupakan hasil ciptaan seorang pegawai 69 Komando sendiri iaitu Ishak Yahya. Dua kerambit yang disusun atur membentuk angka 69 dipisahkan oleh hujung lembing dan berlatar belakangkan perisai hitam.
Kerambit melambangkan kepakaran dan kemahiran melakukan operasi sulit terhadap kekuatan musuh.

Lembing melambangkan status kepahlawanan 69 Komando dalam menjaga serta menobatkan perlembagaan yang menjulang kuasa Kesultanan Melayu sebagai pemerintah, pelindung rakyat jelata dan penjaga kedaulatan Negara.

Warna merah melambangkan keberanian setiap pegawai dan anggota, warna hitam melambangkan kerahsiaan terhadap sesuatu operasi yang dijalankan oleh unit dan warna kuning melambangkan kesetiaan terhadap raja dan Negara.

Itulah 69 Komando!

SUMBER : 69 KOMANDO

Saturday, May 10, 2014

Kalimah Allah kurun ke 2 Masihi antara keajaiban di N.Sembilan



Mungkin ramai antara kita tidak mengetahui bahawa kalimah Allah dalam tulisan Arab telah terdapat di Negeri Sembilan sejak tahun 137 Masihi lagi iaitu kira-kira 500 tahun sebelum Hijrah. Di Kompleks Sejarah Pengkalan Kempas yang terletak antara jalan utama Port Dickson – Linggi terdapat satu-satunya rangkaian batu megalitik atau batu hidup yang mempunyai bentuk ukiran serta tulisan kalimah Allah yang wujud sejak tahun 137 Masihi.

Pengkalan Kempas amat penting dalam sejarah Negeri Sembilan dan Malaysia kerana di sini juga terdapat makam ulama zaman Kesultanan Islam Melaka iaitu Sheikh Ahmad Majnun yang dipercayai wali Allah.

Kompleks Sejarah Pengkalan Kempas mengandungi perkuburan misteri yang menggunakan batu megalit yang berbentuk pedang dan senduk. Sejarawan percaya kubur ini dibina pada abad ke-2 dan ke-3 Masehi. Sebahagian batu megalith ini ada ukiran yang menyerupai tulisan Arab dan Sumatra. Batu ini terdapat Inskripsi Hindu yang terdapat huruf Arab ( Allah ) , Batu Inskripsi Raja Aditiya Warma, 137 Masehi dan pada batu itu tertulis perkataan Allah dengan huruf Arab.

Pihak penjajah Inggeris telah memindahkan pelabuhan dari Pengkalan Kempas ke Tanjong dan memberi nama Port Dickson sempena nama Pegawai Inggeris yang bertanggungjawab ketika itu Sir John Frederick Dickson

Nama lama untuk Port Dickson ialah Tanjong. Nama lain untuk Port Dickson juga ialah Arang dimana dulu terdapat lombong arang di Batu 1 , Jalan Pantai , Port Dickson.

Adalah sewajarnya Kompleks Bersejarah Pengkalan Kempas ini diisytiharkan sebagai salah satu keajaiban yang terdapat di Negeri Sembilan dan Malaysia.

Kredit: waghih.blogspot

Thursday, May 1, 2014

Ucapan Sultan Brunei Sempena Perisytiharan Berkuatkuasa Kanun Jenayah Syariah 2013




"Pada 22hb Oktober 2013 yang lalu Beta telah mengumumkan perwartaan Perintah Kanun Hukuman Jenayah Syar’iah 2013, maka pada hari ini setelah berlangsung 6 bulan Beta dengan bertawakal kepada Allah SWT serta bersyukur mengistiharkan bahawa esok hari Khamis 1 Rejab 1435H bersamaan 1hb Mei 2014M adalah tarikh mulanya berkuatkuasa Perintah Kanun Hukuman Jenayah Syar’iah 2013 fasa pertama yang kemudian akan diikuti pula dengan fasa selanjutnya."
"Tidaklah berbangkit sama sekali kita menangguhkan sebagaimana yang dinukil oleh media. Kita perlu memahami ungkapan enam bulan selepas akta digazetkan dimana sehingga ke hari ini pun ia masih lagi didalam lingkungan 6 bulan tersebut."
"Alhamdulilah dengan ini kita mengulangi lagi sejarah perundangan Islam yang pernah diamalkan beberapa kurun terdahulu di Negara ini. Semua itu adalah berkat keazaman kita untuk menolong ugama Allah di bumi yang bertuah ini. Allah telah berjanji untuk menolong kita jika kita menolong ugamanya. Ini pasti berlaku sebagaimana firmannya dalam surah Muhammad ayat 7 tafsirnya: Wahai orang orang yang beriman, jika sekiranya kamu menolong agama allah nescaya Allah akan menolong dan membela kamu untuk mencapai kemenangan serta menatapkan pendirian kamu dalam membela kebenaran."
"Dengan mengembalikan segala pujian kepada Allah maka kewajipan Beta dan kewajipan kita semua dihadapannya dalam perkara perundangan sudah pun kita sempurnakan. Tinggal sahaja lagi peranan masing-masing terutama agensi-agensi yang berkaitan hendaklah melaksanakannya dengan penuh tanggungajawap, amanah dan berhemah. Ingatlah fokus kita hanyalah kepada Allah jua untuk mencari redha nya semata mata bukan melihat kekiri atau kekanan untuk mencari-cari siapa yang suka atau tidak."
"Kita tidak pernah melihat orang lain dengan kaca mata yang buruk kerana itu adalah hak dan pilihan mereka. Kita juga tidak mengharapkan mereka untuk menerima dan mempersetujui kita tetapi memadailah jika mereka menghormati kita sahaja sebagaimana kita juga menghormati me
reka."
"Adapun andaian-andaian berupa berbagai teori adalah perkara lumrah yang tidak pernah berkesudahan. Kita tidak boleh berpegang dengan teori yang statusnya tidak lebih dari teori, berbanding dengan apa yang kita pilih ialah tuntutan Allah. Sesungguhnya tuntutan Allah itu bukanlah ia teori tetapi hukum wajib yang tidak ada keraguan padanya. Kalau teori mengatakan undang-undang Allah kejam dan tidak adil tetapi Allah sendiri telah menegakkan undang2nya, itu adil. Maka dimanakah harga teori itu disini berhadapan dengan wahyu Allah."
"Dengan ikhlas kita tegaskan bahawa keputusan untuk melaksanakan perintah Kanun Hukuman Jenayah Sariah 2013 ini bukanlah untuk suka-suka tetapi adalah atas dasar mematuhi perintah Allah yang termaktub dalam Al-Quran dan Al-Hadis. Beta amatlah berbangga dan sukacita atas pendirian rakyat dan penduduk Negara ini yang telah menyatakan sokongan tidak berbelah bahagi termasuk di kalangan mereka yang bukan berugama Islam. Lebih-lebih lagi sokongan padu itu turut diambil oleh ahli2 Majlis Mesyuarat Negara di dalam sidang nya yang berlangsung baru-baru ini."
- Titah Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam bersempena Majlis Pengishtiharan Penguatkuasaan Perintah Kanun Hukuman Jenayah Syar’iah 2013.

Video Ucapan Sultan Brunei dari Brunei Times




Friday, April 18, 2014

TERUNGKAP, NASKAH MELAYU TERTUA DI DUNIA



Naskah Tanjung Tanah adalah kitab undang-undang yang dikeluarkan oleh kerajaan Malayu pada abad ke-14. Naskah ini merupakan naskah Malayu yang tertua di dunia, dan juga satu-satunya yang tertulis dalam aksara pasca-Palawa yang juga disebut sebagai aksara Malayu dan Aksara Incung.

ULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini. Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya, dunia tulis-baca orang Malayu diidentikkan dengan masuknya agama Islam di nusantara yang dimulai pada abad ke-14.

"Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah" yang ditemukan Kozok merupakan naskah pertama yang menggunakan aksara Pasca-Palawa dan memiliki kata-kata tanpa ada satupun serapan ‘berbau' Islam.

Berdasar uji radio karbon di Wellington, New Zealand naskah ini diperkirakan dibuat pada zaman Kerajaan Adityawarman di Saruwasa (Tanah Datar, Sumatera Barat) antara 1345 hingga 1377. Naskah ini dibuat di Dharmasraya yang waktu itu merupakan pusat Kerajaan Malayapura. Karena itu Kozok mengumumkan naskah tersebut sebagai naskah Malayu tertua di dunia yang pernah ditemukan.

"Ada pakar sastra dan aksara menganggap tidak ada tradisi naskah Malayu sebelum kedatangan Islam, ada yang beranggapan Islam yang membawa tradisi itu ke Indonesia, dengan ditemukannya naskah ini teori itu runtuh," kata Kozok.

Aksara Sumatera Kuno.

Pendapat kedua, seperti halnya Jawa, Sumatera sebenarnya juga memiliki aksara sendiri yang merupakan turunan dari aksara Palawa dari India Selatan atau aksara Pasca-Palawa. Selama ini aksara di sejumlah prasasti di Sumatera, seperti sejumlah prasasti-prasasti Adityawarman, disebut para ahli sebagai aksara Jawa-Kuno.

Padahal, menurut Kozok, aksara itu berbeda. Seperti halnya di Jawa, di Sumatera juga berkembang aksara Pasca-Palawa dengan modifikasi sendiri dan berbeda dengan di jawa yang juga bisa disebut Aksara Sumatera-Kuno.

Pendapat ketiga, kerajaan Malayu tua pada zaman Adityawarman telah memiliki undang-undang tertulis yang detail. Undang-undang ini dikirimkan kepada raja-raja di bawahnya. Selama ini belum pernah ada hasil penelitian yang menyebutkan Kerajaan Malayu Kuno memiliki undang-undang tertulis.

Pendapat keempat, dengan ditemukannya "Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah" selangkah lagi terkuak informasi mengenai Kerajaan Dharmasraya, Adityawarman, dan Kerajaan Malayu yang beribukota di Suruaso. Naskah tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Malayu beribukota Suruaso yang dipimpin oleh Maharaja Diraja, di bawahnya Dharmasraya yang dipimpin Maharaja, dan di bawah Dharmasraya adalah Kerinci yang dipimpin Raja

Undang-Undang dari Dharmasraya

Transliterasi dan terjemahan naskah 35 halaman itu dilakukan sejumlah ahli yang dikoordinasi oleh Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa). Ternyata naskah tersebut berisi undang-undang yang dibuat di Dharmasraya (sekarang tepatnya di tepi Sungai Batanghari di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat) yang diberikan kepada masyarakat Kerinci.

Dharmasraya waktu itu adalah pusat Kerajaan Malayapura/Malayu beragama Hindu-Buddha di bawah pemerintahan tertinggi raja Adityawarman. Tulisan tentang naskah kuno ini telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia berjudul Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, Naskah Malayu yang Tertua (Yayasan Obor Indonesia: 2006). Edisi sebelumnya dalam bahasa Inggris The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript ( Cambridge: St Catharine's College and the University Press: 2004)

Gambar: Naskah Tanjung Tanah Hal 34 (Naskah Tj Tanah menggunakan aksara Malayu pada hal 1-32 dan aksara Incung pada hal 33-35)

Ditulis oleh: RiriSaputra

Wednesday, March 5, 2014

LEMBAH PITIS KELANTAN DI PASIR MAS


             Penemuan Pitis Kelantan di Lembah Sungai Kg Kubang Pak Amin,Pasir Mas telah mencetuskan berita dalam berbagai media arus perdana. Dari penemuan kepingan syiling Pitis oleh seorang penduduk telah merebak dengan cepat dan menarik ramai manusia dari berbagai lapisan untuk turut mencari artifak warisan Kelantan itu.

                  Pitis merupakan syiling pertama yang ditempa oleh Kerajaan Kelantan dan digunakan sebagai legal tender untuk berurus niaga diseluruh Kelantan. pengunaan pitis ini dimansuhkan oleh penjajah inggris dan menggantikannya dengan syiling dan wang kertas straits settlements sekitar tahun 1920..Beberapa keping pitis yang dijumpai di Lembah Sungai Kg. Kubang Pak Amin....


             Pemerhatian depankanta mendapati berbagai varieti Pitis Kelantan terdapat di lembah sungai ini...Penemuan ini telah mendorong generasi muda untuk mengenali jenis-jenis dan berbagai variasi pitis Kelantan yang ada.

           Seorang penduduk sedang mencuba nasib, mengikut cerita orang-orang tua disini.lembah ini merupakan bekas pelabuhan/jeti tempat kapal dagang singgah untuk berurus niaga. Pendapat ini disokong dengan terdapatnya perkampongan Cina sekitar lembah penemuan Pitis ini.

       Sepanjang lawatan ini depankanta ditemani oleh cikgu Roslan Abd. Rahman yang juga merupakan peminat artifak purba.. Menurutnya penemuan pitis di Pasir Mas ini telah memberi kesedaran pada generasi muda untuk mengenali mata wang yang digunakan oleh datuk nenek mereka sebelum datangnya penjajah.

         Kunjungan orang ramai semakin meningkat bila berita penemuan ini disiar oleh berbagai media arus perdana..Kerajaan Kelantan melalui Muzium Negeri telah mengambil langkah memantau aktiviti mencari pitis sekitar lembah sungai Kg Kubang Pak Amin....

           Dari penemuan pitis ini telah memberi rezeki lain pula pada peniaga air ini....

             Saudara Mohd Yusof dari Kg Landar,Kasar,Pasir Mas adalah orang pertama yang menemui pitis yang mencetuskan berita gempar ini. Penduduk setempat disekitar kawasan ini sebenarnya telah lama menemui pitis ini tetapi hanya sekeping dua dan menganggapnya penemuan biasa...Penemuan oleh sdr Wan Mohd Yusof telah menjadikan Lembah Sungai Kubang Pak Amin tersohor hingga menggamit pengunjung dari luar termasuk dari Thailand....

        Penemuan yang sempat dirakam, kebanyakan orang ramai memilih untuk menyimpannya sebagai kenangan dari menjualnya...Mungkin pencarian ini akan berakhir tidak lama lagi, mengikut beberapa orang pengunjung yang ditemui semakin hari semakin sukar untuk menemui pitis walaupun hanya sekeping setelah sehari suntuk mencarinya...

         Pencarian adalah santai dan tidak menampakkan satu usaha yg serius...Tentu pencarian dikawasan seperti ini lebih praktikal jika menggunakan Alat Pengesan logam...Keghairahan orang ramai mencari pitis mengingatkan depankanta tentang penemuan bijih emas di Lubuk Mandi, Rusila, Terengganu suatu masa dulu....

           Fenomena air pasang adalah merbahaya kepada kanak-kanak yang berkunjung ke Lembah ini..

BERITA TV9

Sumber: http://depankanta.blogspot.com       

PITIS or KEPING KELANTAN SS 10A

PITIS  or KEPING KELANTAN
Sultan Muhammad II  [ 1838-1840  ]
Tahun 1256 hijrah / 1840
Obverse  : In Arabic Khalifatul Mukmin
Reverse   : In Arabic Karam Duriba Sanat 1256 Hijrah
Edge        : Plain
Weight    : 6.70gram
Diameter  : 28mm
Composition : Tin
Bentuk    : Bulat dan belubang empat segitepat ditengahnya  .
Condition Fine
Rarity Very Rare RR
Estimate Value EV RM100
Owner Galeri Sha Banknote 1964
Rujukan SS 10A   M/S 219


PITIS  KELANTAN SS 10A
Sultan Muhammad II
OBVERSE
Obverse
In Arabic Kalifatu Mukmin
REVERSE
Reverse
In Jawi  Karam Duriba Sanat 1256 H
EDGE
Edge Plain

Wednesday, February 12, 2014

Bagaimana Rumpun Melayu Bangun Menentang Penjajahan.

                        Gambaran suasana sewaktu perang Gowa dahulu
PENGENALAN
Orang-orang Melayu adalah pelayar ulung yang telah mengembangkan pengaruh mereka di Nusantara menerusi beberapa empayar maritim yangpernah mereka terajui.
Kedatangan penjajah Barat bermula dari kurunke-16 telah secara perlahan menghakis kegemilangan kerajaan-kerajaan Melayu ini sehingga akhirnya seluruh dunia Melayu terjajah.
Walaupun ditindas dan dijajah beratus tahun lamanya, sejarah telah membuktikan bahawa orang-orang Melayu mempunyai semangat kebangsaan dan jati diri yang tinggi untuk menentang penjajah.
Artikel ini memberi fokus kepada antara empat peperangan menentang penjajahan yang terbesar dalam sejarah Nusantara iaitu Perang Kedah-Siam (di Tanah Melayu), Perang Kastilla (di Borneo), Perang Menteng (di Sumatera) dan Perang Gowa (di Sulawesi).

Antara teknologi senjata melayu

PERANG KEDAH-SIAM
Perang Kedah-Siam meletus sewaktu pemerintahan Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II pada kurun ke-19. Armada Siam pada waktu itu belayar ke Kuala Kedah dengan alasan untuk mendapatkan bekalan makanan bagimenghadapi serangan tentera Burma yang sedang memerangi Siam.
Orang-orang Kedah tidak mengetahui tujuan sebenar lawatan tersebut dan menyambut kedatangan armada Siam itu dengan meriah.
Sesudah berlabuh di Kedah, tentera Siam melancarkan serangan mengejut yang seterusnya melumpuhkan Kedah. Seramai 1,000 rakyat Kedah telah dijadikan tawanan perang dan dihantar sebagai buruh paksa ke Bangkok. Sultan Kedah terpaksa berundur ke Prai sebelum melarikan diri ke Pulau Pinang dan diberikan perlindungan oleh kerajaan negeri-negeri Selat yang ditadbir British. Kedah telah secara rasmi dijadikan jajahantakluk Siam pada tahun 1821 dan menerima pentadbiran secara langsung dari Bangkok.
Penjajahan ini meletuskan beberapa siri gerakan pembebasan anjuran bangsawan-bangsawan Kedah. Serangan pertama dilancarkan pada tahun 1826 tetapi berjaya dipatahkan Siam dengan bantuan British.
Tengku Kudin melancarkan serangan lagi pada tahun 1831 dan berjaya mengalahkan Siam. Namun kemenangan ini tidak kekal dan pasukan Tengku Kudin terpaksa berundur apabila Siam melakukan serang balas dan mengambil semula kota Kuala Kedah.
Walaupun mengalami kekalahan yang berpanjangan dan sekatan daripada pihak British yang bersekongkol dengan Siam, ini tidak langsung mematahkan semangat juang Melayu Kedah.
Pada tahun 1839, setelah menyusun strategi peperangan yang mantap, angkatan Kedah menyerang balas dan berhasil mengusir Siam dari Kedah dan seterusnya membebaskan Pattani serta Songkhla dari penguasaan Siam.
Kekalahan yang memalukan ini telah menconteng arang di wajah pemerintah Siam dan satu angkatan peperangan yang besar dengan persenjataan moden dan dibantu pihakBritish telah dikerahkan ke Kedah. Akhirnya, Kedah telah jatuh ketangan Siam kembali dan ditukar namanya kepada Syburi.
Sultan Ahmad Tajuddin yang tidak rela negerinya mengalami nasib yang sama seperti Pattani yang telah dihapus kesultanannya, telah mencuba memperbaiki hubungannya dengan Raja Siam melalui beberapa siri perbincangan diplomatik.
Pada tahun 1842, takhta Sultan Kedah telahdikembalikan oleh Raja Siam kepada baginda Sultan Kedah dan kesultanan Kedah kekal sehingga hari ini sebagai sebuah institusi kesultanan yang diiktiraf oleh kerajaan Malaysia.
Catatan sejarah ini menunjukkanorang-orang Melayu Kedah mempunyai semangat juang yang sangat tinggi. Jika pihak Siam tidak dibantu oleh British, berkemungkinan besar Siam tidak dengan sesenang itu dapat menjarah bumi Kedah yang berdaulat.
Perjuangan menentang penjajahan ini telah dipandang tinggi oleh seorang pegawai tentera laut British, Kapten Sherard Osborn yangmenyatakan:
'Seperti anjing, orang-orang tempatan di pesisir Semenanjung India menjilat tangan yang mendera mereka; tetapi tidak untuk orang Melayu; dan kita orang-orang Inggeris harus menjadi bangsa yang pertama memberi penghormatan kepada sebuah bangsa yang tidaksewenang-wenangnya tunduk kepada penjajahan dan penindasan'.
PERANG MENTENG
Perang Menteng di Palembang, Sumatera meletus pada 12 Jun 1819 sewaktu pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821). Palembang pada ketika itu telahpun berkembang menjadi sebuah kerajaan yang tidak kurang makmurnya hasil daripada galian bijih timah dan tanaman lada.
Belanda telah melantik seorang pesuruhjaya bernama Edelheer Mutinghe untuk mengawal selia pentadbiran kawasan tersebut. Mutinghe berkeras untuk tidak mengiktiraf pemerintah tempatan dan mengambil inisiatifnyasendiri untuk mencabar kedaulatan Sultan Palembang dengan memaksa baginda mengakui ketuanan Belanda.
Tidak berpuas hati dengan keangkuhan Mutinghe, penduduk tempatan yang menyokong Sultan Mahmud memulakan serangan yang telah membunuh ramai askar Belanda. Belanda kemudiannya menyerang balas dengan mengirimlebih ramai askar ke Palembang dengan misi penjajahan tetapi sekali lagi, mereka telah dimalukan.
Untuk menguatkan lagi pertahananPalembang, Sultan Mahmud telah mengarahkan pembinaan 'Benteng Kuto Besak' (Kota Besar) bagi menangkis serangan Belanda yang kemudiannya dilancarkan pada 30 Oktober 1819.
Menyedari kekuatan Palembang, pihak Belanda telah melakukan kerja-kerja pengintipan menerusi pedagang Arab dan pedagang Cina,tetapi tetap gagal menguasai Palembang pada awal tahun 1821.
Sewaktu terjadinya perang, kedua-dua pihak Belanda dan Palembang telahbersetuju untuk tidak melakukan serangan pada hari Jumaat dan Ahad bagi menghormati hari suci agama Islam dan agama Kristian. Tetapi Belanda dengan licik telah melanggar perjanjian ini dengan menyerang Palembang secara mengejut pada 24 Jun 1821 yang seterusnya melumpuhkankesultanan ini.
Keesokan harinya, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarganya telah dihantar ke Batavia (Jakarta) dan seterusnya dibuang negeri ke Ternate sehingga baginda mangkat pada 26 September 1852.
Belanda yang menyerang dengan cara penipuan ini telah menghancurkan sama sekali kesultanan Palembang; jika tidak, Palembang mungkin akan kekal sebagai sebuah kerajaan berdaulat di Sumatera pada ketika ini
PERANG KASTILLA
Sepanyol dan kesultanan Brunei pernah terlibat dalam suatu peperangan yang dianggap antara yang terbesar di dalam sejarah Nusantara iaitu Perang Kastilla. Pada tahun 1576, gabenor Sepanyol bernama Franciscode Sande bersama pengikutnya telah belayar ke Brunei untuk menghadap Sultan Saiful Rijal.
Objektif utama mereka adalah untuk menjalinhubungan baik dengan Brunei dan untuk mendapatkan kebenaran mengembangkan ajaran Kristian di wilayah kesultanan ini. Francsico juga menuntut Brunei untuk menghentikan penyebaran Islam di kepulauan Filipina.
Sultan Saiful Rijal menolak permintaan Francisco dan akibat daripada itu, pihak Sepanyol melancarkan peperangan ke atas Brunei pada tahun 1578.
Ekspedisi peperangan menentang Brunei ini melibatkan 2,200 bala tentera. Kota Batu, ibukota Brunei ketika itu telah ditawan pada 16 April 1578 mengakibatkan Sultan Brunei terpaksa melarikan diri ke Jerudong bagi mengatur serangan balas bagi menghalau Sepanyol keluar dari Kota Batu.
Setelah berjaya mengumpulkan kekuatan, serangan telah dilancarkan oleh Bendahara Sakam dengan penuh semangat keberanian danakhirnya beliau berhasil mengusir Sepanyol dari bumi Brunei pada 26 Jun 1578 - 72 hari setelah Brunei dijajah Sepanyol. Tentera Sepanyol telah dikejar oleh bala tentera Brunei sehingga mereka lari ke Sabah.
Jika tidak kerana keberanian dan semangat juang yang tinggi pasukan tentera Melayu Brunei, Brunei mungkin akan menjadi sebahagian daripada wilayah takluk Sepanyol di Timur. Sehingga hari ini, Brunei kekalsebagai sebuah kesultanan yang berdaulat yang masih mengamalkan konsep Melayu Islam Beraja (MIB).
PERANG GOWA
Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana adalah seorang pemerintah yang disegani yang pernah bertakhta di Gowa, kesultanan yang kini menjadi sebahagian dari sejarah terpenting rakyat Sulawesi.
Baginda memerintah dari tahun 1653 sehingga 1669, sewaktu Belanda mencuba keras untuk menguasai wilayah ini dengan Gowa merupakan satu-satunya kesultanan di Indonesia Timur yang masih lagi merdeka.
Pada tahun 1666, Syarikat Hindia Timur Belanda yang dipelopori Kapten Cornelis Spellman bertindak untuk menguasai kesemua kerajaan di Indonesia Timur untuk memonopoli perdagangan rempah. Walaubagaimanapun, Belanda gagal untuk menjajah Gowa.
Untuk menangkis pencerobohan Belanda, Sultan Hasanuddin memperkuatkan kekuatan tentera kerajaannya untuk menghadapi Belanda. Pihak Belanda juga telah mendapatkan bantuan tentera dari ibu kotanya di Batavia.
Sebanyak 250 buah kapal Gowa belayar dari Pelabuhan Galesong ke laut Banda dan armada Belanda pula diketuai oleh Laksamana Monte Maranno. Peperangan berterusan selama 3 tahun mengakibatkan kerugian yang besar pada kedua-dua pihak. Akhirnya, serangan terakhir Belanda pada 12 Jun 1669 telah melumpuhkan kota Sombaupu dan Gowa akhirnya terjajah.
Sultan Hasanuddin kemudiannya diturunkan takhta dan mangkat setahun kemudian pada 12 Jun 1670. Keberanian Sultan Hasanuddin menentang penjajahan disanjung tinggi bukan sahaja oleh rakyat Makassar tetapijuga oleh Belanda yang memberikan jolokan De Hanntjes van Het Oosten (Ayam Jantan dari Benua Timur) kepada Baginda.
Gowa kekal sebagaitanah jajahan Belanda sehingga merdeka di dalam Indonesia pada tahun 1950.
KESIMPULAN
Bermula dari kurun ke-16 Masihi, kerajaan-kerajaan Melayu telah secara sedikit demi sedikit dijajah oleh kuasa-kuasa luar seperti Belanda, Sepanyol, British dan juga kuasa serantau, Siam.
Biarpun dijajah dan tanahair mereka dijarah, sejarah telah mencatatkan bahawa bangsa rumpun Melayu ini tidak dengan mudah menyerah tanpa sebarang penentangan. Kisah 'empat perang' yang dibincangkan ini iaitu, Perang Kedah-Siam, Perang Menteng, Perang Kastilla dan Perang Gowa telah membuktikan bahawa orang-orang Melayu telah memberikan penentangan yang kuat dengan semangat juang dan jati diri yang tinggi dalam mempertahankan tanahair mereka daripada penjajahan.
Kesultanan Brunei yang masih wujud sehingga kini adalah peninggalan warisan Melayu yang boleh dibanggakan di Nusantara - walaupun telah secara sementara dijajah Sepanyol, kerajaan ini terus kekal sehinggakini sebagai sebuah negara Melayu Islam berdaulat yang merdeka.
Maka, orang-orang Melayu harus melihat sejarah episod penjajahan ini bukansebagai suatu alasan untuk menjadi layu, tetapi sebagai suatu semangat bagi membina jati diri untuk berusaha maju ke hadapan dalam membina negara-negara rumpun Melayu yang telah merdeka, tidak kira di Malaysia, Brunei ataupun Indonesia.
Mohd Hazmi Mohd Rusli (Ph.D) ialah seorang pensyarah kanan di Fakulti Syariah dan Undang-undang, Universiti Sains Islam Malaysia dan seorang felo bersekutu di Institut Oseanografi dan Sekitaran, Universiti Malaysia Terengganu
mstar 
openminda

Monday, January 20, 2014

Siapakah Abdullah Hukum ?


BAGAIMANA wajah Kuala Lumpur 100 tahun lalu? Siapa yang membuka, menghuni dan menyemarakkan kota itu pada akhir abad ke-19? Dalam hal ini, kita tidak boleh menyisihkan sumbangan besar Haji Abdullah Hukum, pedagang dari Kerinchi, Sumatera yang turut menyuntik pertumbuhan ekonomi Kuala Lumpur bermula 1850-an.

Abdullah Hukum atau nama asalnya Abdullah Rukun, ketika itu berusia 15 tahun berkelana merentasi Selat Melaka ke Melaka sebelum ke Kuala Lumpur bersama sekumpulan rakannya dengan berjalan kaki tiga hari tiga malam. Banyak tempat yang disinggahi dan banyak pula pengalaman ditempuhinya. Setibanya di Kuala Lumpur, beliau menumpang di rumah Haji Abdul Ghani di Java Street.

Ketika itu, Kuala Lumpur mempunyai dua lorong saja iaitu Java Street dan Market Street, manakala Ampang Street (kini Lebuh Ampang) dahulunya adalah tempat sekumpulan ceti beroperasi dan di situ juga ada sebuah kolam ikan milik Almarhum Sutan Puasa.

Rumah kedai pada masa itu berbumbung atap bertam dan berdinding buluh, manakala peniaga di situ kebanyakannya menjual kain dan makanan, semuanya orang Melayu berketurunan Rawa dan Mendahiling. Sutan Puasa dan Raja Bilah adalah di antara ketua masyarakat berpengaruh ketika itu. Kedua-dua ketua ini mengutip hasil dagangan daripada peniaga yang melalui Sungai Klang dan Sungai Gombak. Cukai timah pada masa itu ialah seringgit sebahara (tiga pikul).

Setapak (dulu Hulu Sungai Tapak) dan Air Panas (dulunya Hulu Gombak) adalah kawasan sawah padi milik Sutan Puasa. Beliau pernah mengambil upah membuat tali air selama tiga tahun di Serambut (Batu Lima Gombak sekarang). Ketika itu, Sutan Puasa adalah ketua yang disenangi penduduk tempatan kerana semua orang boleh mengerjakan sawahnya dengan kadar upahan sepuluh gantang padi daripada setiap seratus gantang.

Abdullah Hukum juga pernah pergi menghadap Raja Laut (Putera Raja Muhamad) kerana ingin meminta sebidang tanah untuk dijadikan kampung baru. Raja Laut memberikan surat kebenaran untuk membuka tanah di Pudu dan menjadi ketua penduduk di situ. Ada ramai orang Kerinchi mengikutnya dan tinggal di Pudu (di kawasan Bukit Bintang sekarang).

Di sana, Abdullah Hukum dan pengikutnya menjalankan aktiviti menanam sayur-sayuran, tebu, pisang, sirih dan bersawah padi. Abdullah Hukum menjadi Ketua Kampung di Pudu selama tujuh tahun. Dikatakan juga beliau pernah menjadi nakhoda yang mengambil upah membawa beras dengan perahu dari Klang ke Kuala Lumpur. Dia mendapat upah empat puluh ringgit untuk sekoyan guni beras.

Selepas membuka kawasan Pudu, Abdullah Hukum mendapat surat kebenaran daripada Raja Mahmud (Putera Sultan Muhamad) untuk membuka kebun di Bukit Nanas. Beliau juga mendapat surat kebenaran daripada Maxwell dan Raja Laut membuka Sungai Putih (kawasan Jalan Bangsar sekarang).

Ketika tinggal di Sungai Putih, Abdullah Hukum membuka Bukit Candi Putra (kini Bukit Putera) yang menempatkan Kompleks Angkasapuri dan Kampung Kerinchi). Abdullah Hukum diangkat menjadi Ketua Kampung di Sungai Putih dengan persetujuan Penghulu dan Datuk Dagang. Selepas dilantik secara rasmi sebagai Ketua Kampung dan Penghulu, Abdullah Hukum menghentikan perniagaan kerbau kerana beban tugas semakin bertambah.

Ketika beliau menjadi Penghulu inilah Abdullah Hukum cuba menyatukan tiga kaum utama di situ, Melayu, Cina dan India. Sebagai menghargai kejayaannya itu, dia menamakan jalan utama di situ sebagai Jalan Bangsa,sempena penyatuan ketiga-tiga kaum. Bangsa kemudian bertukar menjadi Bangsar.

Apabila meletus peperangan Selangor dan Pahang, Sultan Abdul Samad memanggil Abdullah Hukum untuk membantu melawan musuh baginda. Baginda melantik Abdullah Hukum yang juga Datuk Dagang sebagai panglima perang.

Sebagai menghormati jasa dan bakti Datuk Dagang, Sultan Abdul Samad mengurniakan sebidang tanah seluas satu perempat ekar kepadanya. Tanah itu terletak berhampiran Sungai Klang, satu kawasan strategik dari segi pertanian dan perhubungan. Di samping itu, Datuk Dagang dikurniakan kuasa untuk menyelesaikan masalah di kalangan penduduk kampung dan kawasan sekitarnya.

Datuk Dagang menjadikan kawasan itu sebagai perkampungan tetap untuk pengikutnya. Kampung itu dinamakan Kampung Haji Abdullah Hukum sempena nama beliau. Ketika Abdullah Hukum datang ke kampung itu, pada 1890-an, pekerjaan utama penduduk di situ ialah bersawah padi dan bercucuk tanam.

Selepas kemangkatan Sultan Abdul Samad pada 1898, Abdullah Hukum menumpukan baktinya kepada putera baginda, Sultan Alauddin Sulaiman Shah. Abdullah Hukum pulang ke Sumatera pada 1929, selepas menjadi ketua kampung selama tujuh atau lapan tahun. Menurut cerita, beliau meninggal dunia pada usia 125 tahun.

Haji Mahmud, seorang daripada enam anaknya mengambil tugas ketua kampung selepas bapanya mengundur diri. Cucunya, Kamaruddin Mahmud mewarisi pusaka kampung ini hingga sekarang, dan kesan peninggalan termasuklah sebuah rumah milik Abdullah Hukum masih ada di kampung Abdullah Hukum.

Kini, Kampung Abdullah Hukum terletak di tengah bandar raya Kuala Lumpur sudah jauh berubah. Harga tanah dan rumah kediaman di situ melambung berpuluh kali ganda. Sudah tidak ada orang yang bersawah padi atau berkebun sayur di situ lagi. Sungai Klang yang menjadi terusan di Kampung Haji Abdullah Hukum sekarang bukanlah aliran sungai yang asal. Sungai ini dulunya melingkari bahagian Jalan Syed Putra yang kini menjadi tapak pusat beli-belah Mid Valley.


Sumber:malaysiasensasi.net